Selasa, 02 Desember 2014
Minggu, 16 November 2014
Suatu Harapan
Suatu harapan
Tuhan, ku tahu
kau mendengar doaku
Doa yang ku
panjatkan setiap waktu
Waktu yang
terus berjalan, hingga membawaku kepada satu titik harapan
Harapan itu
terasa manis,
melambai di kejauhan
serta tersenyum
lembut menyapaku
Hariku indah
dengan telapak tangan yang menengadah
Berjuang untuk
kehidupan yang berkah
Berpikir
mendapatkan keadilan dari perjalanan kaki ini
Terjun bersama
sang mentari
Tak terasa, di
ufuk timur matahari sembunyi
Dan kuusap
keringat yang menetes di pipi
Ku kembali
Bercerita
dengan sang rembulan yang sedikit menampakkan sinarnya
Seakan malu
mendengarkan ceritaku yang hanya berujung pilu
Ia pun tertawa
lepas bersama gumpalan mendung di sekalilingnya
Tapi tak
mengapa, aku tetap bercerita
Aku akan tetap
pada harapanku
Berdiri melawan
lelah hati
Hanya Tuhan yang
masih setia menemani
Di mana dan
akan kemana aku pergi
Dia tahu apa
yang aku minta
Harapan itu
akan selalu ada...
Aku
" Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi"
-Chairil Anwar-
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi"
-Chairil Anwar-
Langganan:
Postingan (Atom)